Jumat, 15 April 2011

Makalah Filsafat Manusia : Eksistensi Manusia

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang ada secara mendalam. sehingga dengan adanya filsafat kita akan tahu akar-akar dari berbagai macam ilmu lainnya dan juga dasar dari segala yang ada.
Filsafat dibagi menjadi bebrapa cabang ilmi, salah satunya yaitu filsafat pendidikan. Filsafat sendiri dimengerti sebagai bentuk ilmu yang mengkaji mengenai dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada pendekatan-pendekatan filsafat sehingga akan menghasilkan teori-toeri kependidikan yang berguna pada masalah-masalah kependidikan itu sendiri.
Dalam filsafat pendidikan terdapat berbagai aliran filsafat yang merupakan terapan dari filsafat umum. Dan yang akan dibahas dalam makalah ini filsafat eksistensialisme yang ditinjau dari segi ontologis atau keberadaan dalam filsafat pendidikan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya.
B.Rumusan Masalah
1. Pengertian Filsafat Eksistensialisme
2. Sejarah Filsafat Eksistensialisme
3. Orientasi Filsafat dan Corak Pemikiran Eksistensialisme.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian filsafat eksistensialisme
Dari sudut etimologi eksistensi berasal dari kata eks yang berarti diluar dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya.
Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret.
Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu, selalu melihat cara manusia berada, eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai, dan berdasarkan pengalaman yang konkret.
Dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan eksistensialisme ini saya kita ilmu-ilmu yang berkaitan dengan manusia seperti sosiologi (berkaitan dengan manusia dan keberadaannya didalam lingkungan sosial), antropologi (berkaitan anatar manusia dengan lingkungan budayanya).

B. Sejarah Filsafat Eksistensialisme
Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah cara orang berada didunia, kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pada pohon atau batu. Untuk menjelaskan arti kata “berada” bagi manusia, aliran ekstensialisme mula-mula menghantam matrialisme.
Eksistenlialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada didunia begitu juga dengan hewan dan tumbuhan juga. Akan tetapi, cara beradanya tidaklah sama, manusia berada didalam dunia ia mengalami beradanya didunia itu, manusia menyadari dirinya berada didunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang sedang dihadapinya itu, manusia mengerti guna pohon, batu , dan salah satu diantaranya ialah mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti, artinya ialah bahwa manusia adalah subyek, subyek artinya yang menyadari, yang sadar barang-barang atau yang disadarinya disebut obyek.
eksitensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materialisme adalah pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrem. Keduanya berisi benih kebenaran, tetapi keduanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu.
Letak kesalahan idelisme ialah karena memandang menusia hanya sebagai kesadaran, sebaliknya materialisme hanya melihat manusia sebagai obyek. materialisme lupa bahwa barang di dunia ini disebut obyek lantaran adanya subyek . dalam pada itu, sesuatu yang aneh terjadi, matrealisme dan idealime sama-sama salah, tetapi dapat tersebar luas, memperoleh banyak penganut, memikat hati banyak orang. Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya.
Soren kierkegard ( 1813-1855)
Menurut kierke garrd, filasafat tidak merupakan suatu system, tetapi suatu pengekspesian eksistensi individual. Yang sejatinya bereksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya. Jadi, manusia tidak pernah hidup sebagai “aku umum” tetapi sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan kedalam sesuatu yang lain.
Pada akhir abad ke-19 karya-karya kierkegarrd mulai diterjemahka kedalam bahasa jerman. Karyanya menjadi sumber yang penting sekali untuk filasafat abad ke-20 yang disebut eksistensialisme. Karenanya sering disebut bahwa kiergarrd adalah bahwa filsafat eksistensialisme.
Jean paul sarte ( 1905-1980)
Pada tahun 80, dunia filasafat dikagetkan oleh berita meninggalnya seorang filosof besar francis yaitu jean paul satre, dialah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar.
Bagi sartre, eksistensi (wujud nyata) manusia mendahului esensinnya (hakikat) berbeda dari tumbuhan, hewan dan bebatuan yang esensuinya mendahului eksisteninya.
Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka.

C. Orientasi filsafat dan corak pemikirannya.
Jean paul Sartre, sebagai seorang filosof, tidak dapat dipisahkan dengan posisinya sebagai seorang sastrawan, karena sifat ganda pada dirinya sudah demikian manunggal. Ini dibuktikan dalam mengungkap filsafatnya sering menggunakan drama, roman, dan novel.
Meskipun sejak kecil dia hidup dalam lingkungan yang religius, akan tetapi kebalikannya justru anti agama dan tuhan. Dia mengembangkan filasafatnya dengan cara yang atheis, sehingga buku satre “ critique of dialectical reason” secara eksplisit bertujuan mengkombinasilan marxisme dan ekstensialisme.
Kultur filsafat dan corak pemikiran Sartre tidak sepenuhnya dipengaruhi tradisi continental, rasional dan idealisme yaitu dari diates sampai kant, dan dari hegel sampai phenomenology hussel, serta Heidegger sebagai pemikir besar, tidak sekaligus membangun filsafatnya, akan tetapi melalui tahap demi tahap sampai kedudukannya mantap sebagai seoarang filosof besar. Hal tersebut mempengaruhi perkembangan karirnya dalam mencari identitas yang khas, meskipun dia bertolak dari Heidegger dan Husserl, tahap-tahap tesebut sebagai berikut:
a. tahap pertama :
tahap ini meliputi kandungan-kandungan phenomenology yang dikaitkan dengan psikologi yaitu melalui Heidegger dan Husserl. Dia menerangkan perbedaan antara persepsi dan kesadaran yang imajinatif, dengan pertolongan konsep husserl mengenai kesadaran yang intensional. Menurut pendapat Sartre menggunakn imajinasi adalah menemukan bahwa angan-angan bukanlah elemen dari kesadaran : akan tetapi ragam.
b. tahap kedua :
Karya utamanya “being and nothingness” dan berorientasi pada pandangan ontology yang cukup radikal. Sartre menggunakan dari analisa Heidegger tentang “ das in” dan memperkenalkan posisi kesadaran manusia.
Meskipun dalam tahap ini pandangannya yang khas adalah ontology akan tetapi disamping pengaruh heiddegger, pengaruh negel juga tak dapat diabaikan pengaruh ini tampak, ketika Sartre mencoba menafsirkan konflik-konflik antara : ada individu-orang lain – melihat-dilihat-ada melihat-dilihat.” Dalam tahap ini muncul buku yang berjudul“ eksistensialisme dan humanisme “ anatara tahap pertama dan tahap kedua tidak ada perbedaan yang mencolok. Yang perlu dicatat , bahwa ciri phenomology Sartre selalu menganalisa kesadaran yang menglikupi ragam-ragam tingkah laku manusia “cinta, benci, sadisme, masochisme dan acuh tak acuh. Sedangkan ontologinya bercirikan radical-dualisme.
c. tahap ketiga
pada tahap ini ada perubahan dalam pendangan Sartre akan tetapi Tidak begitu berartri dalam masalah kebebasan. Dia agak condong kepada maxisme. Dalam tahap ini karyanya yang penting adalah critique de la raison dialectique.
Marxisme adalah filasafat yang mengerti zaman kini, tetapi marxisme harus belajar kepada eksistensialisme , bahwa individu konkret itu lain dengan kolektivitas” serta memandang individu sebagaio kebebasan.
Sartre merupuakan filosof yang menjadikan permasalahan kebebasan manusia sebagai tema sentral, terutam dalam karya being and nothingness. Fancies jenson, seorang pengikut Sartre, pernah mengatakan bahawa buku ini boleh dianggap sebagai une ontology de la liberte yaitu yaitu ajaran yang memberi dasar pada kebebasan.
Dalam pemikiran tentang kebebasan ada satu tahap-tahap pergeseran orientasi kebebasan menuju pembebasan” akan tetapi tetap juga mempertahankan sifat dan coraknya yang ekstrim dan radikal.
Secara garis besar mengenai masalah tersebut diatas dalam tiga tahap.
1. mendewa-dewakan kebebasan .
Pada masa mendewa-dewakan kebebasan ini dia mempertahankan pendapatnya tersebut dalam teori saja, sebab pada masa itu seluruh perhatiannya didasarkan kepada yag dimutlakan semata. Dia mengatakan bahwa kebebasan adalah sumber satu-satunya nilai. Dalam mendewa-dewa kebebasan, dia merumuskan dengan kalimatnya yang terkenal: “ man is free, or rather man is freedom”. Kebebasan adalah mencakup seluruh eksistensi manusia, tidak dan batas untuk kebebasan, kebebasan itu sendiri menentukan ke bebas, karena kebebasan dimutlakan maka akibat yang paling adalah penolakan kepada tuhan, serta akibat etis yang ditimbulkannya adalah nihilisme.
Kebebasan manusia yang dimutlakan sepanjang ajaran tersebut dia pegang sama. akhir hayatnya dan dai juga mempertahankan sifat dan coraknya yang atheis. Sehingga perkataan kunci yang terdengar : “hanya tinggal pilih “ kata Sartre “manusia yang bebas atau mengakui tuhan sebagai sumber nilai”. Menurut Sartre, sebagai konsekuensi kebebasan mutlak, maka tuhan itu tidak ada.
2. memperhatikan kebebasan
pada tahap kedua ini dia memperhatikan kehidupan sehari-hari yang lebih praktis yang dihadapi manusia sebagai kebebasan. Dan ternyata adalah hal-hal yang mengurangi kebebasan seseorang, dalam hal ini disebut “faktisitas” menurut Sartre faktisitas antaranya adalah adanya orang lain, tempat tinggal, maut, dan lingkungan social.
Oleh sebab itu, jika kebebasan dipahami sebagai penghindaran dari kontingensi (kekenian), dan dari kenyataan justru ada sustu kenyataan yang terlepas dari kenyataan itulah faktisitas dari kebebasan.
3. mempraktekan kebebasan
setelah melewati tahap diatas, secara pribadi Sartre Tidak mempertahankan faham kebebasan teori saja. Dan yang paling menyolok, tidak pernah dia segan-segan menarik segala konsekuensi praktis dari anggapannya tentang kebebasan. Namun yang perlu diperhatikan dalam masalah ini, bahwa pembebasan dalam praktek bukan tahap tersendiri dalam kehidupan Sartre, melainkan suatu tandensi umum yang terdapat dalam seluruh kehidupannya.
Kenyataan juga menunjukkan bahwa dia tidak pernah mempraktekkan dalam pandangannya yang berubah terhadap ketuhanan atau mengurangi tekanan pesimis mangenai ubungan antar manusia. Hal ini tidak dapat diharapkan lagi, karena ketiadaaan telah merenggut padanya.


BAB III
KESIMPULAN
Esensi dari eksistensialisme adalah keberadaaan manusia didunia ini yang berbeda yang keberadaannya berbeda dari hewan dan tumbuhan, karena hanya manusialah mempunyai akal (mengerti).


BAB IV
PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, bila ada kesalahan atau kekurangan dalam bentuk apapun kami segenap pemakalah mohon maaf.

0 komentar:

Poskan Komentar

Links

Advertise